Minggu, 07 Februari 2016

Resume 1 - Pemasaran dan Promosi Perpustakaan

1. Pemasaran Merupakan proses sosial dan manajerial yang membuat individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan, lewat penciptaan dan pertukaran timbal balik produk dan nilai dengan orang lain 2. Promosi Merupakan aktivitas mengkomunikasikan keunggulan produk, serta membujuk pelanggan sasaran untuk membeli/memanfaatkannya. Promosi bertujuan untuk mempengaruhi sikap, pengetahuan atau tingkah laku penerima dan membujuk mereka untuk menerima konsep pelayanan atau barang. 3. Iklan Segala bentuk penyajian dan promosi secara nonpribadi dari ide barang dan pelayanan yang dibayar oleh sponsor tertentu. 4. Publikasi Berita atau informasi tentang produk pelayanan atau ide yang dikeluarkan atas nama sponsor, tetapi tidak dibayar oleh sponsor. 5. Hubungan masyarakat mencakup banyak aspek dari hubungan organisasi dan konsumennya.  Konsep Pemasaran 1. Proses manajerial 2. Proses sosial 3. Bentuk pemasaran berupa program yang disusun secara cermat. 4. Tujuan: untuk membantu organisasi yang bersangkutan agar dapat bertahan hidup dan hidup secara sehat dengan jalan melayani pasar secara lebih efektif. 5. Menggunakan dan meramu rangkaian perangkat bauran pemasaran (marketing mix), Jasa Jasa merupakan semua kegiatan ekonomi yang hasilnya tidak merupakan produk dalam bentuk fisik dan konstruksi. Jasa layanan adalah semua tindakan atau kinerja yang dapat ditawarkan satu pihak kepada pihak lain yang pada intinya tdak berwujud dan tidak menghasilkan kepemilikan apapun. Produksinya tidak terdapat atau terkait dengan produksi fisik. Karakteristik Jasa : (a) Tidak berwujud, (b) tidak terpisahkan, (c) bervariasi, (d) dapat musnah. Eksternal marketing merupakan usaha mengkomunikasikan produk dengan pelanggan, sementara internal marketing berusaha semaksimal mungkin memenuhi kebutuhan pelanggan sesuai dengan apa yang dikomunikasikan oleh pihak eksternal marketing. Pemasaran perpustakaan merupakan proses mengidentifikasi pemakai potensial yang mau mendengarkan cerita tentang peran perpustakaan, mengembangkan cerita tersebut sehingga pemakai memahami apa yang membuat perpustakaan unik dan pemakai juga akan mendapatkan sesuatu yang menarik serta mengembangkan cara menceritakan yang akan membuat pemakai tertarik. Teknik Pemasaran : (a) Mengetahui tujuan, sumber informasi, dan produk perpustakaan, (b) Mengetahui pesaing, (c) Identifikasi pelanggan perpustakaan, (d) Membuat strategi pasar bagi perpustakaan, dan (d) Menggunakan bauran promosi. Promosi Merupakan mekanisme komunikasi persuasif pemasaran dengan memanfaatkan teknik-teknik hubungan masyarakat untuk memberikan informasi tentang produk atau jasa. Tujuan Promosi Perpustakaan : - Menurut Jerome: menarik perhatian, menciptakan kesan, membangkitkan minat, memperoleh tanggapan. - Menurut Weinstock tujuan promosi perpustakaan antara lain memperkenalkan pusat informasi dan layanannya kepada masyarakat dan membujuk calon pemakai yang akan menggunakan pelayanan informasi. Keuntungan promosi : (a) Promosi membawa suara bagi perusahaan dalam arena pemasaran, (b) Membantu perusahaan meningkatkan penjualan produknya, (c) Membantu perusahaan dalam menciptakan produk baru, (d) Membantu perusahaan dalam menyelamatkan distribusi produksinya di dalam pasar, serta (e) Membantu perusahaan dalam membangun citra yang baik bagi perusahaan tersebut.

Resume Materi 1 - Manajemen Perpustakaan Umum dan Khusus

Nama : Fidiya Aini NIM : 140214606236 Prodi : S1 Ilmu Perpustakaan Mata Kuliah : Manajemen Perpustakaan Umum dan Khusus  Pengertian Manajemen Manajemen berasal dari kosakata Bahasa Inggris to manage  mengurusi. Secara umum manajemen adalah suatu rangkaian proses mulai dari perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengawasan untuk mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien (Stueart, 2002: 47). Manajemen merupakan suatu proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran secara efektif dan efisien atau untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Manajemen diperlukan untuk dapat menciptakan keseimbangan untuk kepentingan 3 golongan yakni pemilik, karyawan, dan konsumen serta mengembangkan petunjuk dan kebijakan yang mengatur tindakan manusia dalam berorganisasi.  Prinsip-prinsip Manajemen 1. Pengelompokan pekerjaan menjadi divisi atau per-bidang. 2. Otoritas atau kekuasaan  tanggung jawab terhadap pekerjaannya. 3. Disiplin  atasan, perjanjian, sanksi. 4. Satu komando  bawahan mendapat komando dari atasan. 5. Ganngsplanks  komunikasi melalui rantai birokrasi. 6. Satu arah  sama-sama berarah untuk mencapai tujuan bersama. 7. Mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi. 8. Remunerasi  penggajian harus bersifat adil. 9. Sentralisasi. 10. Teratur  identifikasi. 11. Persamaan  hak dan perlakuan. 12. Stabilitas  mempekerjakan seseorang dalam jabatan penting. 13. Inisiatif  memberikan reward. 14. Rasa kebersamaan  komunikasi.  Konsep Manajemen 1. Lingkungan organisasi (eksternal organisasi). 2. Strategi dan tujuan  SWOT atau RRM (Rapid Response Management Program). 3. Teknologi  input menjadi output. 4. Struktur sosial organisasi. 5. Budaya organisasi  cara hidup organisasi. 6. Struktur fisik organisasi  gedung, lokasi, atribut, perabotan, perlengkapan dan lain-lain.  Visi dan Misi Kalimat sederhana yang dapat membangkitkan semangat para pekerja dalam melakukan tindakan dan perilaku sehari-hari di tempat kerja untuk mencapai tujuan (Stueart, 2002: 105). Misi merupakan langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mewujudkan visi dan diwujudkan ke dalam tujuan yang lebih berorientasi secara operasional dan lebih rinci.  Fungsi Manajemen 1. Fungsi Perencanaan Proses menilai dan menentukan tujuan yang diinginkan di masa yang akan datang serta mengembangkan dan menyeleksi kegiatan-kegiatan alternatif. (Stueart, 2002:67). Terdapat 5 unsur dalam perencanaan : a. Bingkai waktu yang meliputi jangka panjang ≥ 5 tahun dan jangka pendek ≤ 1 tahun. b. Mengumpulkan dan menganalisis data. c. Level perencanaan  jangka panjang (manajer lini atas) jangka pendek (manajer lini bawah) d. Fleksibilitas : rencana dibuat luwes agar dapat menyesuaikan lingkungan. e. Dapat dipertanggungjawabkan  di kontrol dan di evaluasi. Jenis-jenis perencanaan operasional : a. Perencanaan produksi : metode dan teknologi. b. Perencanaan keuangan : dana untuk aktivitas operasional. c. Perencanaan fasilitas : fasilitas pekerjaan untuk mendukung tugas. d. Perencanaan pemasaran : keperluan penjualan dan distribusi barang atau jasa. e. Perencanaan sumber daya manusia : rekruitmen, seleksi, dan penempatan orang-orang sesuai dengan bidangnya masing-masing. Langkah-langkah perencanaan : a. Menentukan tujuan perencanaan. b. Menentukan tindakan untuk mencapai tujuan. c. Mengembangkan dasar pemikiran mengenai kondisi yang akan datang. d. Mengidentifikasi cara untuk mencapai tujuan. e. Mengimplementasikan dalam bentuk tindakan dan evaluasi. Pendekatan : a. Perencanaan inside-out : terfokus pada yang sudah dilakukan dan mengusahakan untuk melakukan yang terbaik. Perencanaan outside-in : analisis lingkungan eksternal untuk mengeksploitasi kesempatan dan meminimalisasi permasalahan yang terjadi. b. Perencanaan top-down : bawahan manajer puncak membuat perencanaan berdasarkan tujuan yang ditentukan. Perencanaan botton-up : perencanaan dari bawah ke atas, dikembangkan pada tingkatan yang lebih bawah tanpa adanya batasan. c. Perencanaan Contogency : terfokus pada pemikiran ke depan.. 2. Fungsi Pengorganisasian Penetapan struktur peran-peran melalui penentuan-penentuan aktivitas yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan organisasi, pengkoordinasian hubungan wewenang dan informasi bagi struktur organisasi baik horizontal maupun vertikal. Keuntungan : adanya sinkronisasi kegiatan, keterpaduan kegiatan, menyelaraskan kegiatan, meruntunkan kegiatan, mencegah tumpang tindih dan kekosongan kegiatan. Dalam pengorganisasian perlu adanya SOP (Standard Operational Procedures) : buku pedoman tertulis berisi langkah-langkah dalam setiap pekerjaan dilengkapi dengan seperangkat aturan kebijakan dan aturan. Manfaat SOP yakni memperlancar pekerjaan, meningkatkan pengawasan, serta meningkatkan koordinasi antar bagian. 3. Fungsi Penggerakan (Actuating) Proses untuk menumbuhkan semangat pada karyawan supaya bekerja dengan giat serta membimbing untuk melaksanakan tujuan. Directing, Motivating, Staffing, dan Leading. Fungsi penggerakan : selain memimpin juga memotivasi dan pengarahan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi. 4. Fungsi Pengarahan Memimpin atau mengawasi orang-orang bawahan  proses melibatkan kemampuan mempengaruhi. Aspek-aspek penting Leadership : a. Motivasi (dorongan) b. Kepemimpinan (proses untuk mempengaruhi dan mengarahkan orang lain). c. Komunikasi organisasi. 5. Fungsi Staffing (Pengisian Jabatan) Pengisian jabatan dalam organisasi dengan cara mengidentifikasi kebutuhan tenaga kerja yang ada, merekrut, memilih, menempatkan, menilai orang yang diperlukan. Fungsi Staffing : - Pembuatan deskripsi evaluasi kerja - Penilaian kinerja - Rekruitment - Pelatihan - Proses seleksi - Kedisiplinan - Wawancara - Kompensasi - Penempatan - Etika 6. Fungsi Pengawasan Pengawasan merupakan suatu upaya sistematis untuk menetapkan standar prestasi pada sasaran perencanaan dan sasaran organisasi serta mengambil tindakan perbaikan yang diperlukan. Fungsi pengawasan antara lain; penilaian, koreksi, evaluasi, dan monitoring. Monitoring dapat dilakukan melalui kegiatan Cost Benefit Analysis, Benchmaking, PERT, Sistem Informasi, dan Decision Support System, Time and Motion Studies, Operation Research. Tujuan pengawasan untuk menemukan kelemahan dan kesalahan kemudian diluruskan serta menjamin bahwa kelemahan dan kesalahan tidak terulang lagi. Perpustakaan Umum dan Khusus 1. Perpustakaan Umum Perpustakaan yang seluruh atau sebagian dananya disediakan oleh masyarakat dan penggunaannya tidak terbatas. Tugas : a. Melayani masyarakat dari berbagai golongan tanpa membedakan golongan, agama, ras dan budaya. b. Menyediakan bahan pustaka. c. Mendorong masyarakat agar dapat memanfaatkan perpustakaan secara efektif dan efisien. Fungsi : a. Edukatif  sumber belajar dan menambah pengetahuan secara mandiri. b. Rekreatif  bahan bacaan hiburan c. Informatif  menyediakan buku referensi bacaan ilmiah d. Kultural  bahan pustaka sebagai hasil budaya bangsa Tujuan : a. Mengembangkan minat baca b. Mengembangkan kemampuan mencari, mengelola dan memanfaatkan informasi c. Meletakkan dasar ke arah belajar mandiri d. Mengembangkan kemampuan masyarakat untuk memecahkan masalah 2. Perpustakaan Khusus Perpustakaan yang bernaung dibawah badan/lembaga/organisasi tertentu dan berkaitan erat dengan bidang tertentu. Jenis-jenis koleksi yang menyesuaikan dengan bidang-bidang atau informasi tertentu serta melayani pengguna informasi dalam kelompok tertentu. Karakteristik dan tujuan: - Memiliki koleksi yang terbatas pada disiplin ilmu tertentu - Keanggotaan perpustakaan terbatas pada sejumlah anggota - Jasa yang diberikan lebih mengarah pada minat anggota perorangan - Tujuan : membantu tugas badan induk tempat perpustakaan bernaung Manajemen Perpustakaan : 1. Perencanaan 2. Pengorganisasian 3. Pengawasan 4. Pelaporan 5. Penganggaran

Tugas 1 Pemrograman Pangkalan Data

Cerita Tentang Dua Malaikat dalam Keluarga

Cerita Tentang Dua Malaikat dalam Keluarga



Fidiya Aini - S1 Perpustakaan dan Ilmu Informasi - Universitas Negeri Malang



Perkenalkan nama saya Fidiya Aini. Namun kebanyakan memanggil saya dengan sebutan “Fid” atau “Kipit/Ipid”. Akan tetapi saya mempunyai panggilan tersendiri dalam keluarga. Saya tinggal di dusun kecil yang terletak diantara perbatasan Lamongan-Gresik bagian utara.
Disini saya tidak akan menceritakan tentang diri saya pribadi melainkan saya akan bercerita tentang 2 malaikat saya, Bapak dan Ibu. Kalau bercerita mengenai mereka mungkin 1 atau pun 2 lembar kertas saja tak cukup. Banyak sekali yang ingin saya gambarkan mengenai mereka berdua.
Yang pertama tentang sebuah nama yang indah “Bapak”. Saya sangat mengagumi beliau. Mengapa? Karena beliau merupakan seorang Bapak yang pendiam namun tegas dan juga rela berkorban untuk keluarganya. Untuk bercerita tentang Bapak, saya tak banyak mempunyai cerita tentang beliau, karena jujur saja saya amat jarang untuk bercengkrama ataupun saling bercerita tentang masa depan tentang harapan saya kepada Bapak. Meskipun dibilang jarang untuk saling bertukar pikiran, namun saya sangat mengagumi sosok Bapak. Satu hal yang saya ingat dari beliau adalah ketika keluarga saya mendapatkan musibah, beliau rela untuk mengorbankan dirinya hanya untuk keluarga.
Mungkin jika saya bercerita tentang kepribadian beliau, saya akan meneteskan beribu-ribu airmata hanya untuk mengenang semua pengorbanan beliau. Beliau sangat rela jika saya meminta untuk ditemani pergi kemana-mana, ketika saya membutuhkan sesuatu beliau dengan siap rela mengantar saya sampai kebutuhan tersebut terpenuhi. Beliau tak pernah mengeluh dihadapan anak-anaknya. Beliau selalu terlihat sebagai sosok Bapak yang mengagumkan.
Saya menangis ketika saya harus pisah untuk waktu yang lama dengan beliau. Saya tak bisa apa-apa. Saya harus mulai mandiri tanpa beliau ketika saya berada dalam perantauan. Saya sadar ketika Bapak dan Ibu melepas saya untuk menuntut ilmu, Bapak sangat merasa kehilangan sosok saya di keluarga dan begitupun sebaliknya saya sangat merasa tak bisa apa-apa tanpa beliau.
Beribu-ribu jaraknya doa akan tetap sampai. Begitulah pepatah yang sering saya gunakan untuk menguatkan diri saya agar tetap bisa bertahan dan berjuang di tanah orang. Ketika saya mendengar beliau sakit, disitulah titik terapuh dalam perjalanan saya. Saya tidak bisa langsung pulang begitu saja disaat mendengar kabar yang kurasa sangat buruk bagi pendengaran saya. Wajar jika saya menangis sejadi-jadinya ketika tak ada satupun orang yang memberi tahu pada saya bahwa beliau jatuh sakit. Saya tahu betul penyakit beliau. Saya sempat berpikir, bagaimana jadinya saya ketika beliau sudah tak lagi membuka matanya untuk melihat dunia? Bagaimana saya harus berusaha ikhlas disaat beliau sudah tak bisa lagi mengantar saya kemanapun saya mau? Namun sekali lagi, sejauh apapun jarak antara saya dan beliau, doa akan tetap sampai.
Untuk cerita selanjutnya yang ingin saya tulis adalah tentang seorang wanita pekerja keras, tentang malaikat yang sengaja diturunkan Tuhan untuk melengkapi hidup saya, tentang wanita yang tak pernah nampak menangis, dan tentang wanita yang selalu mengajarkan saya artinya berbagi dalam kesederhanaan. Ibu.
Sosok Ibu dalam kehidupanku sangat terlihat nyata. Beliau sangat rela berkorban demi anak-anaknya bahkan melebihi Bapak. Saya masih ingat, bagaimana Ibu merawat saya seorang diri ketika Bapak masih berjuang di tanah rantau. Ibu merupakan sosok yang sangat pekerja keras. Saya tahu betul bagaimana perjuangan Ibu untuk mendapatkan pekerjaan mulai dari nol hingga saat ini yah Alhamdulillah sudah bisa membantu meringankan beban Bapak. Ibu selalu menguatkan anaknya disaat anaknya sedang dalam masalah. Satu hal yang tidak pernah saya lupakan adalah ketika Ibu menangis dalam sujud panjangnya, ketika Ibu harus melepaskan saya untuk belajar di tanah rantau. Banyak yang bilang saya anak mami, yah memang pada kenyataannya saya merupakan anak yang seperti itu. Maka dari itu, Ibu menangis berdoa pada Tuhan mungkin agar saya bisa hidup mandiri di tanah orang.
Akan tetapi karena kesibukan Ibu, saya terkadang marah mengapa Ibu jarang sekali ada waktu untuk sekedar bercerita tentang kerasnya hidup ketika saya sudah mulai beranjak dewasa. Mungkin Ibu menginginkan agar saya bisa berpikir secara mandiri dan sudah harus bisa menyelesaikan masalah sendiri. Meski terkadang saya sangat merindukan sosok Ibu yang dulu selalu menjadi tempat curahan kekecewaanku pada hidup. Mungkin semua hanya masalah waktu. Ketika saya sudah beranjak dewasa dan ketika kesibukan kuliah semakin menyita waktuku, saya merupakan anak yang jarang sekali pulang dalam dekapan keluarga. Hampir setiap hari saya menanyakan kabar Ibu, mungkin Ibu bosan dengan tingkah kekanak-kanakan saya yang selalu ingin bercerita dengannya.
Ibu sosok yang sangat kuat, tangguh, pekerja keras, bijaksana, tegas, dan pemaaf. banyak sekali sikap dan sifat yang sangat saya kagumi pada diri Ibu. Terkadang saya berpikir, saya ingin menjadi seperti Ibu, namun Ibu selalu berkata “jangan jadi seperti Ibu nak, Ibu tak pandai, Ibu masih banyak kekurangan, kamu harus jadi lebih baik dari Ibu”. Ah ibu, padahal menurutku Ibu lah satu-satunya makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna. Sekeras apapun Ibu menolak ketika saya ingin jadi seperti Ibu dalam hati saya selalu berdoa agar saya bisa meniru perjuangan keras Ibu agar menjadi sukses. Ibu sangat kuat, Ibu selalu merangkul anak-anaknya ketika anak-anaknya tengah terjatuh. Sekali lagi Ibu sangat kuat dan sabar, saya tetap ingin menjadi seperti beliau. I’m not as strong as you, Mom. But I always trying to be like the figure of my Mom.
Salam rindu dari anakmu yang jauh menuntut ilmu dalam rantauan Pak, Bu.

Minggu, 24 Januari 2016

Makalah Standar Pustakawan





PENGARUH STANDAR PUSTAKAWAN TERHADAP LAYANAN PERPUSTAKAAN DI BAGIAN SIRKULASI


MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
Bahasa Indonesia Keilmuan
yang dibina oleh Bapak Prof. Dr. Anang Santoso, M.Pd.



Oleh
Fidiya Aini
140214606236






UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS SASTRA
JURUSAN SASTRA INDONESIA
S1 ILMU PERPUSTAKAAN
April 2015

1.             PENDAHULUAN
1.1         Latar Belakang
                   Perpustakaan merupakan tempat himpunan ilmu dan informasi yang dibutuhkan oleh para pengguna informasi. Perpustakaan sebagai suatu sistem informasi bertugas menyediakan dan menyebarkan informasi yang terdapat dalam koleksinya kepada masyarakat pemakainya. Perpustakaan sering dianggap sebagai tempat terkumpulnya buku-buku, atau suatu gudang buku saja. Namun, buku-buku tersebut dikumpulkan juga mempunyai maksud tertentu dan tujuan yang diarahkan kepada penggunaan buku-buku (koleksi bahan pustaka) tersebut. Bahan pustaka yang dimiliki oleh perpustakaan harus diolah dan diatur secara sistematis dengan tujuan memberikan kemudahan dan kecepatan dalam menemukan kembali bahan pustaka yang dibutuhkan. Perpustakaan mempunyai tugas sebagai pengantar ilmu dan informasi yang terhimpun kepada masyarakat yang memerlukannya serta agar dapat menarik orang untuk mempergunakan koleksi perpustakaan.
                   Layanan sirkulasi merupakan salah satu layanan di perpustakaan yang dapat dijadikan sebagai tolak ukur keberhasilan suatu perpustakaan. Layanan sirkulasi dapat membuat pemustaka memperoleh banyak informasi baik yang ada di perpustakaan maupun yang diluar perpustakaan. Bagian layanan sirkulasi, pustakawan yang bertugas harus mempunyai latar belakang pendidikan di bidang perpustakaan agar dapat memahami hak dan kewajiban yang harus dilakukan ketika bertugas. Layanan sirkulasi sangat penting bagi perpustakaan untuk menunjang layanan yang tepat bagi para pemustaka dan keselamatan koleksi perpustakaan tersebut. Selain memberi pengaruh terhadap banyak sedikitnya pemustaka yang akan berkunjung, bagian sirkulasi juga mempengaruhi koleksi yang ada di perpustakaan tersebut, karena sirkulasi tidak hanya mengawasi pemustaka yang masuk, tetapi juga mengelola buku atau koleksi bahan pustaka yang masuk dan keluar perpustakaan.
                   Purwono (2013:3) menyatakan bahwa kepustakawanan yaitu hal-hal yang berkaitan dengan pustakawan, seperti profesi kepustakawanan dan penerapan ilmu, misalnya dalam hal pengadaan koleksi, pengolahan, pendayagunaan dan penyebaran informasi kepada pemustaka. Pustakawan harus memiliki kualifikasi sebagai tenaga terdidik perlu ada persyaratan penerimaan tenaga kerja dengan latar belakang pendidikan di bidang perpustakaan. Disamping itu juga perlu ditingkatkan lewat pendidikan dan pelatihan bagi pustakawan yang telah ada karena latar belakang pendidikan berpengaruh terhadap kinerja seorang pustakawan. Namun, pendidikan tinggi belum menjamin kinerja yang baik jika situasi atau sistem manajemen perpustakaan tidak memberi kesempatan pada pustakawan untuk berkarya dan berinovasi dalam upaya pengembangan profesinya. Pemerintah menghargai pustakawan sama halnya masyarakat umum. Namun, pustakawan berada dalam “kasta” yang paling rendah, tentu saja tunjangannya pun yang paling sedikit. Pustakawan harus memiliki motivasi yang digunakan dalam menghadapi tantangan dan menjadikannya sebagai peluang untuk tetap memberikan pembelajaran sepanjang hayat.

1.2         Rumusan Masalah
Makalah ini memiliki rumusan masalah sebagai berikut :
1)   bagaimana standar pustakawan yang profesional di bagian layanan sirkulasi?
2)   bagaimana upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas pustakawan yang memenuhi standar?

1.3         Tujuan
Makalah ini memiliki tujuan sebagai berikut :
1)   untuk mendeskripsikan standar pustakawan yang profesional di bagian layanan sirkulasi.
2)   untuk mendeskripsikan upaya-upaya yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan kualitas pustakawan yang memenuhi standar nasional.

2.    Pembahasan
2.1         Pengertian Perpustakaan
              Menurut Purwono (2013:1) perpustakaan adalah sebuah sistem yang didalamnya terdapat unsur tempat (institusi), koleksi yang disusun berdasarkan sistem tertentu, dan pemakai. Menurut Mallinger (dalam Purwono, 2013:2) perpustakaan saat ini bukan lagi sebuah gedung atau objek keepers melainkan sebuah sumber pengetahuan. Menurut Surat Keputusan dari Menpan No. 18 Tahun 1988 perpustakaan adalah suatu unit kerja yang sekurang-kurangnya mempunyai koleksi 1.000 judul bahan pustaka atau 2.500 eksemplar dan dibentuk dengan keputusan pejabat yang berwenang. Sementara itu, menurut ketentuan umum Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan, menyatakan : Perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi dan rekreasi para pemustaka. Menurut Rahayuningsih (2007:1) perpustakaan adalah suatu kesatuan unit kerja yang terdiri dari beberapa bagian, yaitu bagian pengembangan koleksi, bagian pengolahan koleksi, bagian pelayanan pengguna dan bagian pemeliharaan sarana-prasarana.
              Berdasarkan beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa perpustakaan adalah suatu tempat yang didalamnya terdapat berbagai bahan koleksi yang dikelola secara profesional oleh para pustakawan sehingga dapat dijadikan sebagai pusat sumber pengetahuan dan informasi yang dibutuhkan oleh pemustaka.

2.1.1   Pengertian Layanan Sirkulasi
              Menurut Rahayuningsih (2007:95) layanan sirkulasi adalah layanan pengguna yang berkaitan dengan peminjaman, pengembalian, dan perpanjangan koleksi. Layanan sirkulasi bukan hanya sekedar pekerjaan peminjaman, pengembalian, dan perpanjangan koleksi saja, melainkan suatu kegiatan menyeluruh dalam proses pemenuhan kebutuhan pengguna melalui jasa sirkulasi.
1)   Kegiatan layanan sirkulasi, meliputi: (1) Pendaftaran anggota perpustakaan, (2) Peminjaman, pengembalian dan perpanjangan, (3) Penagihan, (4) Pemberian sanksi, (5) Beres administrasi perpustakaan, (6) Statistik.
2)   Sistem layanan sirkulasi
              Sistem yang dapat diterapkan dalam layanan sirkulasi adalah sistem manual dan sistem terotomasi.
(1)     sistem manual
              Sistem yang dapat digunakan, khususnya untuk jenis koleksi buku anatara lain: sistem buku atau kartu besar, sistem sulih (dummy system), sistem bon pinjam, sistem kartu.
(2)     sistem terotomasi
              Keseluruhan aktivitas layanan sirkulasi yang menggunakan sistem terotomasi dikerjakan dengan memanfaatkan fasilitas komputer.

2.2         Standar Pustakawan di Bagian Layanan Sirkulasi yang Profesional.
              Kata profesional merupakan serangkaian keahlian yang dipersyaratkan untuk melakukan suatu pekerjaan yang dilakukan secara efisien dan efektif dengan tingkat keahlian yang tinggi dalam rangka untuk mencapai tujuan pekerjaan yang maksimal. (Purwono, 2013:49). Seorang profesional harus mempunyai standar kualitas dan ciri-ciri tertentu. Menurut Tilaar (dalam Purwono, 2013:50) bahwa para profesional memiliki ciri-ciri khusus yakni memiliki suatu keahlian, merupakan panggilan hidup, memiliki teori-teori yang baku secara universal mengabdikan diri untuk masyarakat, dilengkapi dengan kecakapan diagnosik dan kompetensi yang aplikatif, mempunyai kode etik, dan mempunyai huubungan dengan profesi pada bidang-bidang yang lain. Seorang profesional merupakan hasil dari suatu yang dipersiapkan dan di bina di pekerjaannya. Oleh sebab itu, profesi tersebut terus berkembang sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
              Pustakawan dapat digolongkan ke dalam lingkup profesi maupun tidak. Hal ini tergantung pada kemampuan dan tanggapan pustakawan terhadap profesi dan jasa yang diberikan pustakawan serta pandangan masyarakat terhadap pustakawan. Pemerintah di Indonesia menghargai pustakawan sebagai tenaga profesional. Jabatan fungsional pustakawan dapat membuka lebar kesempatan dan pengakuan terhadap profesionalisme pustakawan. Menurut Lasa HS (dalam Prastowo, 2012:355), pendidikan minimal pustakawan adalah Diploma III Perpustakaan, dokumentasi, dan informasi. Sesuai peraturan pemerintah yang berlaku, sebaiknya pustakawan ini diangkat sebagai tenaga fungsional. Apabila seseorang yang menangani perpustakaan belum memenuhi syarat diploma III maka disebut sebagai tenaga perpustakaan. Sebab, pustakawan adalah jabatan profesi yang menuntut pendidikan akademik minimal diploma III dalam bidang perpustakaan, dokumentasi, dan informasi. Sementara itu, karyawan yang terdiri atas tenaga administrasi bertugas melaksanakan kegiatan administrasi dan membantu pelaksanaan kegiatan perpustakaan pada umumnya, seperti pelabelan, sirkulasi, pembuatan statistik, dan lain sebagainya.
              Agus Rusmana (dalam Purwono, 2013:83) menyatakan bahwa dengan memperhatikan tugas dan tanggung jawab pustakawan sebagai ujung tombak lembaga perpustakaan, maka dapat ditentukan kompetensi yang harus dimiliki seorang pustakawan yang mampu mendukung pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya sehingga dapat menciptakan kualitas layanan perpustakaan yang ideal. Menurut Purwono (2013:84) berikut merupakan kompetensi pustakawan:
1)   kompetensi atau standar untuk melaksanakan tanggung jawab.
              Pustakawan dapat melaksanakan tanggung jawab yang tertuang pada Pasal 2, 3, dan 4 UU No. 43 Tahun 2007, maka seorang pustakawan harus memiliki standar:
(1)     membuat dan melaksanakan kegiatan yang menarik.
(2)     menyusun program berbasis keberhasilan yang terukur dengan menggunakan Standar Nasional.
(3)     memilih dan menyediakan koleksi yang bersifat rekreatif berlandaskan prinsip etika dan kesopanan.
2)   Kompetensi untuk melaksanakan tugas
              Pustakawan harus memiliki kompetensi agar dapat menjalankan tugas seperti yang terdapat dalam Pasal 32 UU No. 43 Tahun 2007, sebagai berikut:
(1)     menunjukkan sifat dan perilaku positif.
(2)     menunjukkan sikap profesional dengan selalu mematuhi etika perilaku yang berlaku di lembaga tersebut.
(3)     membuat program layanan yang berkualitas tinggi dalam bentuk pendidikan pemustaka.
              Disamping kompetensi untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab, seorang pustakawan harus memiliki beberapa kompetensi seperti yang dituntut oleh beberapa pasal dalam UU No. 43 Tahun 2007 sebagai berikut: a) Pasal 12 Ayat 1 yang berisi tentang koleksi perpustakaan diseleksi, diolah, disimpan, dilayankan, dan dikembangkan sesuai dengan kepentingan pemustaka dengan memperhatikan perkembangan teknologi dan komunikasi. b) Pasal 14 Ayat 3, “Setiap perpustakaan mengembangkan layanan perpustakaan sesuai dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi.” Kedua pasal tersebut menuntut pustakawan agar memiliki kompetensi dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi dalam menjalankan perannya sebagai pustakawan yang profesional. Pustakawan harus memiliki kemampuan untuk menggunakan teknologi komputer dalam berbagai program manajemen perpustakaan, mulai dari entri data sampai pemeliharaan basis data koleksi serta mulai dari menggunakan jaringan internet sampai membuat situs jaringan.

2.3         Upaya Pemerintah untuk Meningkatkan Kualitas Pustakawan agar Memenuhi Standar Nasional
              Pustakawan banyak yang bekerja di perpustakaan namun tidak sesuai dengan lulusan ketika mereka berada di pendidikan tinggi. Walaupun diketahui bahwa tenaga putakawan merupakan jabatan karir dan jabatan fungsional. Profesi pustakawan telah diakui keberadaannya oleh pemerintah Republik Indonesia dengan terbitnya Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (Menpan) nomor 18 tahun 1988 dan telah diperbarui dengan SK Menpan nomor 132 tahun 2002.
              Undang-Undang No. 43 Tahun 2007 Pasal 2 Tentang Perpustakaan dinyatakan bahwa: perpustakaan diselenggarakan berdasarkan asas pembelajaran sepanjang hayat, demokrasi, keadilan, keprofesionalan, keterbukaan, keterukunan, dan kemitraan. Sejalan dengan semangat UU Nomor 43 Tahun 2007 Tentang perpustakaan, bagian ketiga pasal 18, pengelolaan dan pengembangan perpustakaan bahwa setiap perpustakaan dikelola sesuai dengan standar nasional perpustakaan. Undang-Undang tentang perpustakaan tersebut sudah jelas memaparkan tentang pentingnya peranan standar pustakawan. Namun, pemerintah belum sepenuhnya menjalankan UU tersebut karena profesi pustakawan  di Indonesia masih sangat minim serta profesi pustakawan sering dipandang sebelah mata oleh masyarakat lainnya.
              Pemerintah Indonesia harus memperhatikan citra pustakawan. Citra diri mengenai pustakawan, hanya individu-individu sendiri yang mampu mengubahnya, semua kembali pada para pustakawan itu sendiri. Citra tentang perpustakaan dan pustakawan saat ini masih memprihatinkan di mata masyarakat dikarenakan faktor internal dan eksternal. Maka dari itu, setiap pustakawan dan perpustakaan diharapkan mampu memberikan citra yang positif bagi memajukan perpustakaan. Citra yang negatif dapat memperlemah serta merusak strategi yang telah dibangun secara efektif. Perpustakaan dan pustakawan mempunyai peranan penting sebagai jembatan menuju penguasaan ilmu pengetahuan.
              Menurut Coffey, M. (dalam Purwono, 2013:106) ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mengembangkan keprofesionalan pustakawan diantaranya adalah memberikan kesempatan pada para pustakawan untuk mengembangkan keahlian menganalisa dan memecahkan persoalan, memberikan kesempatan pada para pustakawan untuk memperluas wawasan, serta mendorong pustakawan untuk mengembangkan keprofesionalannya.
              Melihat permasalahan diatas, perpustakaan khususnya perguruan tinggi harus mulai berbenah dengan membekali para tenaga pengelolanya baik tenaga administratif maupun fungsional dengan bersikap profesional dalam memberikan pelayanannya. Perpustakaan harus banyak melakukan pengembangan sumber daya manusia untuk dapat bersifat profesional. Khususnya melatih tenaga pengelola perpustakaan dalam bidang layanan, komputer, bahasa Inggris, melakukan studi banding ke berbagai perpustakaan yang lebih maju, mengikutsertakan pustakawan dalam seminar maupun magang di bidang ilmu perpustakaan dan teknologi informasi, serta peningkatan kualitas layanannya dengan pembekalan layanan prima bagi tenaga pengelola perpustakaan.

3.    PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Makalah ini memiliki kesimpulan sebagai berikut:
1)   perpustakaan memiliki beberapa layanan salah satunya adalah layanan
sirkulasi. Layanan sirkulasi merupakan bagian dari proses atau layanan yang disediakan perpustakaan. Layanan sirkulasi dapat menjadi tolak ukur penilaian masyarakat terhadap kinerja pustakawan di perpustakaan.
2)   pustakawan merupakan salah satu unsur penggerak mekanisme organisasi
atau lembaga kerja yang disebut perpustakaan. Pustakawan perlu memiliki kualifikasi tenaga terdidik sebagai persyaratan penerimaan tenaga kerja dengan latar belakang di bidang perpustakaan. Selain pendidikan bagi para pustakawan, dapat pula ditingkatkan lewat pelatihan bagi para pustakawan yang telah ada terutama dalam bidang teknologi informasi. Pustakawan perlu menguasai teknologi informasi karena teknologi informasi tidak dapat dipisahkan dengan perkembangan media informasi yang ada di perpustakaan.




Daftar Rujukan
Prastowo, A. 2012. Manajemen perpustakaan sekolah profesional. Yogyakarta: DIVA Press.
Purwono. 2013. Profesi Pustakawan Menghadapi Tantangan Perubahan. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Rahayuningsih. 2007. Pengelolaan Perpustakaan. Yogyakarta: Graha Ilmu.